27 Asosiasi Pengusaha Tolak Kenaikan TDL 2014

Media : RAKYAT MERDEKA | Wartawan : DiR | Kamis, 19 Desember 2013  | 12:19 WIB

Sebanyak 27 asosiasi industri yang tergabung dalam Forum Komunikasi Asosiasi Nasional (Forkan) menyampaikan pernyataan sikap bersama, menolak Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tahun depan. Mereka mengaku, sudah tidak mampu menanggung beban baru. KETUA Forkan Franky Sibarani mengatakan, industri dan sektor usaha belum sanggup menghadapi kenaikan TDL 2014. Karena pada tahun ini, sudah bertubi-tubi industri nasional mengalami tekanan seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kenaikan gas, dan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang akan segera diberlakukan. “Sepanjang tahun ini kami telah menghadapi kenaikan TDL sebanyak empat kali. Golongan 13 telah naik 18,1 persen dan untuk golongan 14 naik 19,5 persen. Kalau TDL tahun depan naik iagi, maka bisa memberikan dampak serius. Oleh karena itu, kami menolak,” kata Franky dalam jumpa pers Menolak Kenaikan TDL 2014 di Jakarta, kemarin.

27 asosiasi industri yang tergabung dalam Forkan antara lain Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu), Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPA Kosmetika), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi pedagang Pasar Tradisional Indonesia (APPSI), Himpunan Alat Berat (Hinabi) dan Asosiasi Industri Minuman Ringan Indonesia (ASRIM). Sekadar informasi, pemerintah berencana menaikkan TDL tahun depan untuk industri golongan III sebesar 38,9 persen, dan untuk industri golongan IV sebesar 64,7 persen Franky menuturkan, kenaikan TDL bisa menyebabkan efek domino. Menurut Franky, naiknya ongkos produksi akan berimbas kepada harga jual produk yang pada akhirnya membebankan masyarakat. “Kenaikan TDL akan menyebabkan daya saing produk lokal semakin lemah terhadap barang impor. Kondisi ini pasti akan memukul sektor industri padat karya,” terangnya.

Franky lalu merinci dampak terhadap sejumlah industri bila TDL dinaikkan. Pertama, sektor industri kosmetik dan jamu. Harga bahan baku di dua industri itu diperkirakan naik sebesar 20 persen, biaya listrik naik 47,34 persen dan biaya produksi 15,16 persen. Kedua, industri elektronik. Dia mengungkapkan, selama ini setiap kenaikan TDL sebesar 10 persen akan mengerek biaya produksi antara 0,6 persen-1,7 persen. Dan, ketiga, industri makanan dan minuman. “Kenaikan TDL akan menyebabkan harga produk naik mencapai 10 persen sampai 15 persen,” perkiraannya. Dia juga menerangkan, lonjakan beban terhadap Industri selama tahun 2012 telah menyebabkan banyak perusahaan melakukan efisiensi'produksi.

Franky memastikan, bila dunia usaha terus tertekan akan terjadi pemutusan hubungan tenaga kerja. “Misalnya di industri makanan, pengusaha akan melakukan percepatan otomatisasi (penggunaan mesin). Ini akan mengurangi tenaga kerja,” jelasnya. Dia menambahkan, dalam waktu dekat ini akan segera menyampaikan penolakan kenaikan TDL ini ke pemerintah melalui surat. “Mudah-mudahan TDL tidak jadi naik,” harapnya. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno menam-bahkan, tidak ada alasan pemerintah menaikkan TDL. Karena, pemerintah telah mendapatkan keuntungan dari kenaikan TDL tahun ini. Dia menilai, rencana pemerintah menaikkan tarif listrik tahun depan tidak sejalan dengan misi pemerintah untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri. “Kenaikan tarif listrik memotong usaha industri nasional untuk meningkatkan daya saing di dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang,” pungkasnya. ■ DiR