StarBrain Indonesia The Media Monitoring Site That You Can Trust
Let’s Create Your Company’s Growth Strategy Together

DEKLARASI NASIONAL DEMOKRAT : RUMAH MEGAH PONDASI KEROPOS

Tak banyak yang bisa diharapkan (ditakutkan) dari hadirnya ormas Nasional Demokrat (Nasdem) besutan Surya Paloh dan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Senin, 1 Februari 2010 lalu. Ibarat rumah, Nasdem tak lebih dari sebuah rumah megah tapi dengan pondasi keropos. Mengapa?

Ada banyak alasan. Pertama, Nasdem lahir—sejujurnya—bukan karena kesamaan cita-cita atau idealisme, tapi lebih karena kesamaan “nasib” mayoritas deklaratornya. Paloh dan Sultan adalah mantan kandidat Ketua Umum Partai Golkar yang kalah bersaing dengan Aburizal Bakrie (Ical). Gerbong yang mereka bawa untuk mendirikan Nasdem adalah gerbong yang sama ketika mereka sama-sama maju perang di Munas Golkar.

Orang dengan sinis bisa bilang, mereka tak lebih dari kader-kader Golkar yang sakit hati karena kalah perang dan kini tak dipakai lagi. Lihat saja, selain Paloh dan Sultan, ada Syamsul Muarif, Jusuf Kalla, dan Enggar Tyasto Lukito. Mereka adalah para sesepuh Golkar yang kini diabaikan kubu Ical.

Tak hanya generasi sepuh. Di jajaran anak muda Beringin, juga ada gerbong yang ikut menjadi deklarator Nasdem. Antara lain Poempida Hidayatulloh, mantan Wakil Bendahara Umum Golkar, mantan Sekretaris Tim Sukses JK-Wiranto, dan anak mantu Fahmi Idris. Dia yang kini jadi Wakil Presiden Kabinet Indonesia Muda (KIM) juga termasuk barisan sakit hati di Golkar.

Kedua, pluralnya latar belakang para pendirinya, sangat sulit mengharapkan Nasdem akan solid selayaknya ormas raksasa yang telah ada di negeri ini. Ia tak lebih hanya semacam ajang temu muka para tokoh-tokoh nasional, tanpa bisa diharapkan membuat program monumental. Sebab, jangan harap ada militansi para deklarator dan anggotanya. Padahal, itu menjadi syarat utama meraksasanya sebuah ormas.

Dengan back ground seperti itu, yakinlah, Nasdem akan senasib dengan ormas-ormas pendahulu yang menjadi terkenal bukan karena berhasil membuat karya monumental, tapi lebih karena nama besar pendirinya. Ia tak akan eksis sebagai sebuah gerakan militansi massa.

Ketiga, Nasdem lahir tanpa ada akar sejarah yang jelas mengapa ia harus hadir dan kenapa harus Suya Paloh dan Sri Sultan yang jadi penjaga gawangnya. Ia lahir ibarat buah yang matang disekap karbit; memiliki daya tarik karena kuning kulitnya, bukan karena rasanya. Ia terdengar menasional karena kekuatan kapital Paloh dengan jaringan TV dan medianya.

Sementara, Sultan hanya jadi embel-embel penyangga kekuatan moral. Paloh tampaknya sadar betul positioning dia. Sosok dia dikenal bukan karena kekuatan moralnya, tapi lebih karena kekuatan kapitalnya. Dan orang juga tahu bagaimana latarbelakang kariernya, baik di politik maupun dunia usaha.

Keempat, Nasdem dilahirkan satu rahim dengan kecurigaan publik bahwa dia—pada saatnya nanti—akan bermetamorfosis menjadi partai politik. Dan, ini yang ditengarai sebagai cita-cita sejatinya (terselubung) berdirinya Nasdem. Jika ini yang nanti terjadi, bisa dipastikan, sebagian besar deklarator yang bukan dari Golkar, akan hengkang ramai-ramai. Apalagi yang dari kalangan akademisi.

Dengan empat titik lemah itu, Nasdem hampir bisa dipastikan tak akan sebesar nama-nama para pendirinya. Embel-embel “nasional” justru kontrakdiksi dengan sosok Paloh yang lebih dikenal sebagai pengusaha ketimbang nasionalis. Nasdem adalah Paloh, karena orang tahu, dialah yang berada di belakang lahirnya dan megahnya acara deklarasi.

Sementara, embel-embel “demokrasi” juga berbanding terbalik dengan sikap para pendirinya: mereka adalah para pecundang dalam ajang demokrasi yang tak mau menerima kekalahannya. (*)